header image
 

Kita memang harus menentukan posisi

Malang, 29 September 2009

Kita memang harus menentukan posisi

Posisi, kata itulah yang belakangan ini terngiang-ngiang di kepala dan menambahkan kesadaran baru dalam pemahaman saya. Posisi adalah hal yang penting, karena tindakan - tindakan kita selanjutnya sangat tergantung oleh landasan dimana kita memijakkan kaki, maupun meletakkan tangan.

Bagaimana memposisikan diri juga bergantung kepada pemahaman masing - masing individu atas hal - hal yang berkaitan dengan posisi tersebut, benefitnya bagi pribadi masing - masing, serta latar belakang yang membayangi individu - individu bersangkutan.

Posisi sendiri tidak bersifat saklek, Melainkan berubah-ubah sesuai dengan dengan pemahaman yang terus bertambah.

Seiring dengan bertambahnya waktu yang telah dijalani, tentunya bertambah pula pengalaman, ilmu, serta pemahaman kita. Hal inilah yang menjadi bekal untuk menentukan posisi lebih lanjut. Akankah kita terus bertahan dengan posisi yang ada sekarang, ataukah berpindah menjadi pilihan yang terbaik.

Apabila ingin bertahan dengan posisi yang ada, tentunya ada tindakan-tindakan pembaharuan yang dibutuhkan untuk mempertahankan posisi tersebut. Hal ini dikarenakan dengan sifat dunia yang selalu berubah mengikuti perkembangan informasi, sehingga diperlukan tindakan-tindakan yang lebih dari biasanya untuk mempertahankan sesuatu hal. Langkah-langkah konvensional memang tetap diperlukan, namun harus seiring sejalan dengan langkah-langkah inovatif. Dalam hemat saya, berpasangan antara baru dan lama selalu menjadi alternatif yang paling besar untuk bertahan. Pun tak ada hal yang diciptakan tunggal di dunia ini oleh sang pemilik jagat raya. Semuanya saling berpasangan dan saling melengkapi.

Sebaliknya saat kita memutuskan untuk berpindah, kita pun dituntut untuk melakukan hal-hal baru sebagai bentuk penyesuaian terhadap pemutusan rantai rutinitas. Tidak ada kenyamanan yang didapat tanpa proses penyesuaian. Intinya, pilihan manapun yang diambil sama-sama membawa konsekuensi tindakan. Baik tindakan untuk mempertahankan maupun tindakan penyesuaian. Dan sekali lagi, tak ada yang lebih ringan antara satu dan yang lainnya, karena effort yang digunakan juga sama-sama besar.

Pemahaman atas posisi yang dapat berubah kapanpun dan dimanapun inilah yang belakangan telah menjadi bekal saya untuk lebih mawas diri dalam menghadapi kesimpang siuran kejadian-kejadian yang hadir di kehidupan kita. Kita tidak dapat menyalahkan orang lain, bahkan diri sendiri sekalipun atas pemahaman dan perubahan posisi yang ditempuh oleh masing-masing manusia. Sebab perubahan sendiri adalah hal yang mutlak. Yang membedakannya adalah niat dalam perubahan - perubahan tersebut.

Akankah perubahan itu membawa kepada hal-hal yang menjadikan setiap kita bertumbuh bijaksana dari hari ke hari. Akankah perubahan yang ditempuh dapat menjadi sumber kebahagiaan bagi diri pribadi dan orang-orang yang kita sayangi. Dan akankah posisi yang kita pilih sungguh-sungguh posisi yang kita butuhkan saat ini.

Sudah 2 hari berturut-turut menangis…Yang pertama karena cerita Fifi, yang kedua karena tulisan ini…

http://www.facebook.com/home.php#/note.php?note_id=121627828009

Secara tidak sengaja aku membuka profile salah seorang teman baru yang meninggal bbrp waktu lalu,dan menemukan wallnya dipenuhi oleh kata- kata ayahnya yang berisikan ttg kerinduan, ketabahan, keikhlasan, serta kebanggan terhadap anaknya..

Sebelumnya saya memohon maaf kpd Om Utoro untuk memposting kata2 om, mungkin om belum mengenal saya dan maaf sudah lancang memuat ini harapan saya, banyak org yang membaca ini kemudian diingatkan,seperti saya yang tiba2 merasa terharu, sedih dan teringat bahwa hidup ini harus diisi dgn hal2 yang baik bersama org2 yang dicinta..smoga bermanfaat bagi semua yang membaca..

terima kasih om, saya rasa pasti semua orang tua akan merasakan hal yang sama..

Turut berduka cita yang mendalam, smoga mbak Cindy tenang disana..

in memoriam Cindy Fellicia, teman yang sangat ceria 1985-2009

Utoro Indiarto
berkali papa dengar, harta adalah titipan Nya. Berkali Papa paham, anak pun titipan Nya, yg dpt ‘diambil’ kembali. Yang Papa yakini, pasti ada hikmah dibalik itu semua. Saat kamu lahir, hanya kamu yg menangis, sementara kami semua tertawa. …Semoga saat kami semua menangis melepaskan kamu, hanya kamu yg tersenyum menatap taman surga mu, ditempat mu yg baru…. Amin.Read More
August 9 at 4:41pm · Comment · Like

Utoro Indiarto
Ifel sayang, kadang Papa berpikir kenapa kamu selalu mempunyai sahabat akrab yg besar dan tinggi, acap pula kita sering berdiskusi tentang indah nya taman2 didunia ini. Dari yang tersirat tersebut, kini Papa paham dan terjawab, kamu sangat mencintai …Sang Maha Besar, yang Maha Tinggi yang akan melindungi mu dan yang memiliki taman terindah…. Semoga…. Amin…. Read More
August 10 at 6:13am · Comment · Like

Utoro Indiarto
Tengah malam tadi Papa terbangun, Papa kangen sama kamu nak…. Papa nerenung, banyak sekali pesan2 moral mu tersirat saat kita diskusi2 terakhir. Bagaimana menyikapi dan semangat hidup kedepan, dan menyikapi seandainya kita sesaat lagi dipanggil Nya…. Pada saat2 terakhir kita sempat bicara, walau dengan dengan susah payah, kamu tetap menuruti pesan Papa Mama untuk mengucap Kalimat kalimat Syahadat…..!Read More
August 11 at 7:31am · Comment · Like

Utoro Indiarto
Kakak … Ada lagi yg Papa ingat, kamu paling pintar menyembunyikan kesulitan2 dan keluhan2 mu, demi kenyamanan dan keceriaan lingkungan sekitar mu… Semoga ini menjadi bekal mu yg abadi Kak..
August 12 at 6:30am · Comment · Like

Utoro Indiarto
Ifel… Pernah suatu saat kamu merasa bahwa sang waktu berjalan dgn begitu cepat, dan akan sangat merugi kalau tidak diisi dgn hal2 yg positif… Papa sangat menyetujui Kak, sesuai firman Nya dlm ‘AL ‘ASHR’….
August 13 at 6:03am · Comment · Like

Utoro Indiarto
akhir2 ini kata2 yg paling populer Papa dengar adalah ‘ikhlas’, demi kebaikan kita semua… Papa sedang mendefinisikan, arti kata tsb.
August 14 at 5:55am · Comment · Like

Utoro Indiarto
sering kali papa melamun, dan dari beberapa sudut pandang, selalu terbayang kamu tersenyum…. Semoga.
August 15 at 5:27pm · Comment · Like

Utoro Indiarto
Mba Cindy… Kamu meninggalkan Papa Mama dan Adik selama genap dua minggu. Kita berpisah, berbeda dimensi tapi kita semua tetap dalam kekuasaan dan lindungan Nya. Ifel sayang, kamu tidak berjalan sendiri nak, doa kami selalu menyertai…
Sun at 3:39am · Comment · Like / Unlike · View Feedback (2)Hide Feedback (2)

Utari Rusmajanti Effendy
Kepergian Cindy rasanya spt mimpi buruk yg berkepanjangan ya mas…anak itu cantik & baik sekali.
Sun at 4:18am

Utoro Indiarto
berat sekali menghadapi masa2 spt ini… Bukan hanya kehilangan fisik nya, seluruh hati dan harapan ikut hilang rasanya. Terima kasih ya Yan…
Sun at 4:33am
Write a comment…

Dita Pradita
Mbak Cindy….makasih udah dateng ke mimpiku :) aku kangen banget kali ya mbak, sampe ada mbak.. Mbak keliatan cantiiiiiik bgt sambil ketawa-ketawa.. I miss you mbak :’)
Sun at 9:44am · Comment · Like / Unlike · View Feedback (2)Hide Feedback (2)

Utoro Indiarto
yah… dek Dita curang… Papa Uut belum kebagian nih… Salam sayang Papa Uut kalo ‘ketemu’ lagi ya…?!
Yesterday at 6:09am

Dita Pradita
Iya papa uut nanti kalo ketemu aku salamin ya..kemarin aku peluk aja mbak cindynya aku kangen banget sih…
Yesterday at 7:54am

Utoro Indiarto
Tadi malam hujan cukup lebat tercurah ke bumi yg kerontang dihantam kemarau. Mungkinkah ini jawaban Nya yg tersirat dari doa Papa untuk mu selama ini..? Semoga ya Allah..!
Yesterday at 6:06am · Comment · Like

Utoro Indiarto
pernah suatu saat seusai Subuh, Papa Mama diskusi soal definisi sukses, dan kamu ikut bergabung sambil berias diri spt lazim nya. Kamu lebih memilih ‘kepergian’ yg sukses… Semoga Kak..!
Yesterday at 6:22am · Comment · Like

Utoro Indiarto
ingin kami lebih lama menyangi dan mengasihi mu, tapi ‘Ar Rahmaan’ ‘Ar Rahiim’ lebih dari itu. Ingin kami lebih lama melindungi mu, tetapi Papa yakin ‘Al Waliyyu’ akan memberikan pada mu lebih. Ingin rasanya kami lebih laama memberikan kasih sayang pada mu, namun ‘Ar Rauufu’ jauh akan memberikan yg lebih. Kami yakin, ‘Al ‘Alimu’ maha mengetahui, ‘As Samii’u’ akan mendengar dan ‘Al Mujiibu’ akan mengabulkan doa, harapan dan pinta kami untuk mu…. Amin . Read More
13 hours ago · Comment · Like
Updated 9 hours ago · Comment · Like / Unlike · Report Note

(Thx untuk tulisannya ya Rahne, terimakasih sudah ngingetin aku)

Regina Spektor - The Call

It started out as a feeling
Which then grew into a hope
Which then turned into a quiet thought
Which then turned into a quiet word

And then that word grew louder and louder
Til it was a battle cry

I’ll come back
When you call me
No need to say goodbye

Just because everything’s changing
Doesn’t mean it’s never
Been this way before

All you can do is try to know
Who your friends are
As you head off to the war

Pick a star on the dark horizon
And follow the light

You’ll come back
When it’s over
No need to say good bye

You’ll come back
When it’s over
No need to say good bye..

Now we’re back to the beginning
It’s just a feeling and no one knows yet
But just because they can’t feel it too
Doesn’t mean that you have to forget

Let your memories grow stronger and stronger
Til they’re before your eyes

You’ll come back
When they call you
No need to say good bye

You’ll come back
When they call you
No need to say good bye..

Jakarta, 17 Agustus 2009
-I’ll be there for you…-

Kapan….

Kapan terakhir kali kau bilang sayang padaku?

Kapan terakhir kali kau bilang bahwa aku orang yang berarti dalam hidupmu?

Kapan terakhir kali kau bilang bahwa kau ingin aku di sampingmu, menunggumu?

Kapan terakhir kali kau bilang bahwa kau membutuhkanku dalam hidupmu?

Dear, if you never told me then how i am suppose to know what you want

or

The fact is i never across in your mind.

Dear, don’t blame people if they leave you…

Because you never said that you want them to be with you…

And the truth is…maybe you just don’t need other people…

Remedial, 15 Juli 2009

9947 PENDERITA, 8,5 JUTA JIWA

Kata pepatah, manusia tak banyak berubah, namun kota-lah yang mengalami banyak perubahan. Entahlah, tak begitu setuju sebenarnya. Kota yang berubah bukankah atas hasil karya manusia itu sendiri? Bahkan menurut pengamatanku, perubahan planologi kota mau tak mau secara langsung juga turut merubah kebudayaan masyarakat penghuni kota tersebut.

Kota yang sekarang aku tinggali beberapa hari lagi akan merayakan hari jadinya yang ke 482, tepat di tanggal 22 Juni 2009. Kota ini pada siang hari bisa berpenduduk 9,8 juta jiwa, dan pada malam hari berisi kurang lebih 8,5 juta jiwa. 1, 3 juta penduduk yang hilang di malam hari berlalu lalang kian kemari antar kota hanya untuk mencari sesuap nasi. „Kota tersibuk“ julukan kerennya. Pun di kota ini perputaran kapital mencapai 80 % dari total dana yang ada di seantero wilayah nusantara. Kota yang tak lain dan tak bukan bernama Jakarta.

Konon kabarnya menurut sejarah pertanahan, tak ada daerah yang disebut Sunda Kelapa, Batavia, ataupun Jayakarta dulunya. Wilayah ini terbentuk oleh endapan material yang dibawa oleh aliran sungai menuju ke laut, semacam delta, karenanya daerah ini sangat subur, namun sayangnya tak akan pernah lepas dari ancaman banjir. „Gimana enggak,lha wong letaknya saja lebih rendah dari daerah-daerah lain. Gak ada ceritanya Jakarta itu bebas banjir“, ujar Torry Kuswardono, salah satu pengampanye lingkungan dari Friend of The Earth International.

Ironis, daerah yang terkenal begitu subur ini sekarang malah berubah fungsi menjadi areal gedung pencakar langit. Tak adanya gunanya lagi 48 Situ yang dibangun pada jaman penjajahan untuk mengairi sawah dan lahan pertanian. Situ-situ tersebut kini juga telah beralih fungsi dari daerah resapan dan penampungan air menjadi tempat rekreasi untuk menghilangkan kepenatan. Mungkinkah manusia jaman sekarang lebih sakti mandraguna dibandingkan manusia jaman lampau? Alih-alih bercocok tanam untuk mengisi perut, sekarang manusia mulai bertanam gedung-gedung tinggi. Pengaruh globalisasi katanya. Wah kalau begitu berharap sajalah daur pencernaan makanan kita bisa ber-EVOLUSI mengonsumsi semen, beton, dan batu bata.

Dan tak hanya itu rekor yang ditempati oleh kota tempat tinggalku kini. Prestasinya juga merambah segala bidang. Mulai dari polusi udara yang telah menjadi santapan sehari-hari sampai wabah penyakit. Menurut Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah DKI Jakarta, Jakarta hanya menyisakan 73 hari baik dalam setahun dengan kondisi udara layak untuk dihirup pada tahun 2007. Rekor bukan? Dari 365 hari yang ada dalam setahun, hanya 73 hari saja paru-paru kita bisa bernapas lega. Hebohnya lagi, hingga April 2009 lalu, wabah demam berdarah telah memangsa 9947 penderita. Luar biasa!! Menurut Ditjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, Tjandra Yoga Aditama, hal ini terjadi karena perubahan cuaca dan iklim. Perubahan yang terjadi akibat semakin panasnya bumi ini.

Kemanakah Perginya

Foto Jakarta jaman lampau terus aku pandangi. Pepohonan masih tampak rindang dan asri. Sungai-sungai tampak jernih dan menjadi tempat bermain kanak-kanak. Akupun tersenyum….Foto-foto yang hanya bisa aku temui di museum dan dalam koleksi tua para fotografer kala itu. Sekarang 13 Kali besar yang ada di ibu kota negara telah berubah warna menjadi hijau tua dan berbau busuk. Tak lagi seperti dalam foto. Kali-kali itu telah menjadi tempat sampah terpanjang yang bisa ditemui, sekaligus tumpuan pemenuhan kebutuhan air minum bagi warga tak mampu, khususnya yang tinggal di daerah bantaran kali. Dan aku melihat pemandangan itu setiap harinya dari atas laju moda transportasi yang kutumpangi.

Dalam keseharianku, aku melihat kota ini jarang tersenyum ramah. Bukan apa-apa, di kota tempat tinggalku ini senyum bisa jadi mengundang maut. „Orang kampung yang bisa dikerjain nih“, begitulah pendapat sebagian orang. Pesanku, jangan terlihat terlalu ramah. Ramah boleh, tapi jangan terlihat. Cukup membingungkan memang, tapi itulah kenyataannya.

Jalanan yang padat dan kemacetan pun telah menambah kerut di wajah para penghuninya. Tak pelak orang Jakarta sering bilang, „Kami tua di jalan“. Satu atau dua jam dimakan oleh kemacetan sudah jadi hal yang lumrah. Ketegangan Senin–Jum’at juga turut berperan serta menumbuhkan uban, warna asli rambut manusia. Anehnya dengan kondisi seperti itu, kota ini malah semakin padat.

Apakah demi uang manusia tak keberatan kehilangan waktunya sia-sia ataupun kehilangan ruang geraknya? Aku tak bisa menjawab….Aku tinggal di kota ini, apa alasanku tinggal disini? Dari semua pertanyaan itu, satu yang paling dari semuanya, kemana perginya kesantunan, kemana perginya uang, dan kemanakah perginya ruangku bergerak?

Geliat – Geliat Semangat

Aku kembali menekuri tulisanku. Namun segera teralihkan oleh bunyi biola yang dimainkan oleh musisi pinggir jalan di taman menteng ini. Selaksa daerah menjadi pilihan gesekannya. Terlintas dalam pikiranku, apa yang menjadi impianmu kawanku? Kulayangkan pandangan kepada ruang terbuka yang disebut taman kota. Cukup asri. Namun ruang-ruang seperti yang sekarang aku pijak tak banyak bersisa, tergilas pesatnya dominasi aspal, semen, maupun beton.

Aku serasa tak punya tempat berlari. Sejauh aku berlari,aku hanya sanggup menghindari hiruk pikuk kota sebatas ini, hanya sejauh tempatku saat ini. Namun maaf saja, pikiranku telah mengembara melebihi jarak yang bisa dilalui oleh fisikku. Membebaskan diri dari penjara waktu, rutinitas, dan dana. Keterlaluan kalau sampai menjelajah dunia dengan pikiran harus ditarik karcis perjalanan. Mungkin itu juga yang ada di benak kawanku musisi jalanan. Suatu hal yang keterlaluan untuk mengisi dunia dengan nada-nada seni sampai harus dikejar-kejar oleh polisi pamong praja.

Aku tahu aku tak sendirian. Rekan seperjalanku dalam mencari penghidupan di kota ini mungkin memilik pemikiran yang sama. Kami jenuh atas pembatasan, kami selalu berusaha membuat terobosan. Namun tak jarang cibiran yang kami dapatkan. Tapi sedikit sandungan takkan meluruhkan niat kami.

Daftar kegiatan yang berjajar dengan tulisanku masih aku lekati. Hmm siapa tahu bisa jadi salah satu sumber tulisanku yang lain. Semakin mempunyai banyak peristiwa untuk dinikmati, semakin banyak yang bisa dituliskan bukan. Yah sebut saja Komunitas historia dan jelajah kota tua yang telah dengan giat meramban bangunan kota termakan usia. Komunitas Bike to work pun tak segan meliuk diantara padatnya lalu lintas Jakarta. Komunitas pecinta lingkungan juga bahu membahu menciptakan kegiatan ramah lingkungan setiap bulannya, ada car free day, ada gerakan stop penggunaan kantung plastik, bahkan mematikan lampu listrik pada jam-jam yang tidak diperlukan. Aku tinggal memilih ingin melakukan apa demi perubahan yang aku inginkan. Pilihan sudah banyak di depan mata.

Aku sadari semua yang peduli sedang mencoba dengan kemampuan dan minatnya untuk membuat kota ini lebih layak ditinggali. Entah sampai kapan…karena tanah tak pernah bertambah, dan manusia tak mau menyusutkan jumlahnya.

Jakarta, Juni 2009

Devi R. Ayu

Mendulang Investasi dengan Asuransi

Sejak lahir ke dunia saya sudah dekat dengan asuransi. Bagaimana tidak, sebagai anak seorang pegawai pemerintah, nama saya telah tercantum dalam kartu asuransi kesehatan mulai dari dilahirkan. Kebijakan pemerintah yang sangat saya syukuri tentunya. Belum lagi asuransi jasa raharja yang langsung menjadi hak pengguna fasilitas umum sewaktu kita sekedar melewati jalan tol ataupun naik kendaraan umum. Tak cukup sampai di situ, ketika masih belajar di sekolah lanjutan tingkat pertama maupun tingkat lanjutan atas, pengurus sekolah saya bahkan mati-matian mempromosikan asuransi jiwa untuk siswa-siswinya. Dan asuransi yang paling terkenal waktu itu adalah AJB Bumiputera 1912. Alhasil saya pun menjadi pengoleksi kartu asuransi di usia muda.

Asuransi bagi saya sudah menjadi bagian penting yang tak terpisahkan dalam hidup. Di tengah makin tidak sehat dan tidak bersahabatnya lingkungan di sekitar kita, semakin bertambah pula ancaman terhadap kelangsungan kesehatan, keselamatan jiwa, maupun asset-asset penting dalam hidup. Diluar negeri, terutama di Eropa, 90 % dana kesehatan masyarakat diputar oleh perusahaan asuransi. Bahkan menurut informasi dinas layanan asuransi pemerintah Jerman, Rumah Sakit atau pusat pelayanan kesehatan disana menolak melayani pasien yang tidak mempunyai nomor jaminan sosial.

Manfaat asuransi sendiri langsung tuai ketika saya jatuh sakit dan harus dirawat di Rumah Sakit dalam waktu yang lumayan lama, sedangkan waktu itu saya tidak punya cukup dana untuk berobat maupun operasi. Masalah itu kemudian teratasi dengan mengeluarkan “kartu sakti” milik asuransi kesehatan tempat saya bernaung. Saya pun bisa melenggang dirawat di Rumah Sakit dengan dana yang minimal. Berkaca dari pengalaman itu akhirnya saya memutuskan untuk tetap setia menjadi pelanggan asuransi. Bahkan sekarang ini asuransi pun dapat menjadi salah satu bentuk investasi kita untuk masa depan. Lho kok bisa?

Jujur saja, saya tahu kalau asuransi bisa dijadikan investasi juga baru belakangan ini. Ada seorang kawan yang berbaik hati menjelaskan kepada saya apakah itu yang dinamakan polis, apa pula macam-macam asuransi yang ada di Indonesia serta syarat-syarat untuk bergabung menjadi member asuransi tersebut, kemudian jaminan serta besarnya uang pertanggungan yang diperoleh dari asuransi yang bersangkutan, bahkan sampai sistem asuransi yang kebanyakan berlaku di Indonesia.

Penjelasan tersebut mulanya dipicu oleh ketertarikan saya untuk mengikuti suatu program asuransi yang sekaligus dapat menjadi tabungan, dimana dana yang diinvestasikan dapat diambil sewaktu-waktu saat saya membutuhkannya. Supaya tidak terjerumus memilih asuransi yang “tidak dibutuhkan” maka saya berkonsultasi kepada kawan yang berprofesi sebagai underwriter di sebuah perusahaan asuransi. Informasi itu mau tidak mau membuka mata saya untuk lebih berhati-hati dalam mempelajari polis asuransi dan dalam mengajukan klaim. Jawaban yang sangat memuaskan pun makin membulatkan tekad saya untuk bergabung dalam investasi asuransi. Bagi saya, berinvestasi memang harus dimulai sejak dini, toh saya tidak membuang uang melainkan mengalokasikannya dalam bentuk proteksi terhadap kesehatan dan dana cadangan untuk masa depan.

Hidup sendiri tak pernah bisa diprediksi akan berlangsung sampai kapan, itulah alasan mengapa proteksi sedari dini sangat diperlukan. Sebagai bahan pertimbangan, bolehlah kita mulai hitung menghitung proteksi mana yang paling kita butuhkan.

1.Asuransi kesehatan adalah proteksi yang „wajib“ dimiliki oleh semua orang. Jika anda sudah terdaftar dalam asuransi kesehatan di tempat anda bekerja, coba periksa kembali apakah proteksinya sudah sesuai dengan keinginan anda. Kalau belum sesuai, anda bisa menambah asuransi, misalnya dengan premi Rp3,8 juta pertahun. Dengan premi sebesar itu, anda bisa mendapatkan fasilitas rawat inap VIP Rp3,5 juta per malam.

2.Asuransi Jiwa adalah proteksi yang „hanya perlu“ dimiliki oleh orang yang memiliki tanggungan. Jika anda bertanggung jawab terhadap hidup pasangan atau anak yang tidak mempunyai penghasilan, anda dapat memilih asuransi dengan uang pertanggungan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga dengan jangka waktu tertentu, misalnya 18 bulan setelah anda tiada. Dalam kurun waktu tersebut diharapkan keluarga yang ditinggal akan mampu mencari penghasilan lain untuk melanjutkan hidup. Nah premi asuransi untuk proteksi jiwa ini bagi mereka yang berusia dibawah 30 tahun kurang lebih Rp3 juta pertahun dengan uang pertanggungan sebesar satu milyar rupiah

3.Asuransi Kecelakaan juga merupakan proteksi „pilihan“ bagi mereka yang memiliki pekerjaan dengan risiko tinggi atau bagi mereka yang menggunakan kendaraan pribadi seperti motor maupun mobil dalam kehidupan sehari-hari. Meski tidak menanggung hidup orang lain tapi anda akan membutuhkannya untuk mengganti penghasilan kalau anda mengalami kecelakaan dan cedera sehingga tidak mampu bekerja lagi. Proteksi jenis ini uang pertanggungannya bisa mencapai Rp750 juta dan anda hanya perlu mengeluarkan dana untuk membayar preminya sebesar Rp1,4 juta pertahun.

Memang menurut sebagian orang jumlah uang yang saya keluarkan perbulan untuk membayar premi asuransi terhitung cukup besar, apalagi untuk kalangan menengah. Namun menurut saya, harga tersebut cukup pantas mengingat jaminan kesehatan yang ditawarkan setara dengan uang yang saya bayarkan. Tidak ada rumah sakit yang menolak untuk bekerja sama dengan asuransi kesehatan tersebut, sistem pembayaran melalui transfer bank juga menjamin keamanan dana saya, terlebih lagi dengan prinsip menabung yang diterapkan oleh perusahaan asuransi itu mengakibatkan saya berhak memperoleh pembagian dana atas keuntungan perusahaan terhadap tabungan yang diinvestasikan. Keadaan ini saya istilahkan, “sekali melompat, dua tiga tempat pun terlampaui”.

Setelah ditimbang-timbang nyatanya tidak ada kerugian dalam berinvestasi terhadap kelangsungan kesehatan dan keselamatan jiwa, toh kesehatan dan keselamatan jiwa adalah motor penggerak dalam mencapai kesuksesan hidup. Selain pos untuk dana kesehatan dalam posisi aman, saya juga mempunyai dana cadangan yang dapat diambil sewaktu-waktu, plus bonus dana dari keuntungan perusahaan. Wah impian hidup layak dengan berinvestasi pada asuransi tampaknya bukan hanya sekedar impian asalkan kita mau berusaha mewujudkannya. Sudah saatnya paradigma atas asuransi dan investasi “hanya menghabiskan uang” berubah haluan menjadi investasi asuransi sebagai salah satu fondasi dalam kestabilan hidup dan finansial di masa datang.

Jakarta, 2 Juni 2009

Devi R. Ayu

Dalam Penghayatan

Saat Biola mengalun diantara sayup-sayup kesedihan
Akhirnya aku tahu mengapa aku menyukai bunyi biola

Saat airmata jatuh diantara sedih dan bahagia
Akhirnya aku tahu mengapa perempuan seringkali menangis di dalam hati

Saat impian dipertemukan dengan realita
Akhirnya aku tahu kenapa manusia harus bermimpi

Saat benci dan cinta tampil diantara panggung dunia
Akhirnya aku tahu mengapa dunia harus terus berlaga

Saat iblis dan Malaikat diciptakan
Aku berharap kala itu iblis mau menyembah manusia dan nafsu tunduk pada pemilik raga

Saat biola mengalun diantara keheningan
Biarkan iramanya dimengerti oleh hati

Saat airmata jatuh diantara sedih dan bahagia
Biarkan hati berbagi cerita dengan pikiran indah

Saat impian dipertemukan dengan realita
Biarkan mimpi terus menghidupkan realita

Saat benci dan cinta mengapit panggung dunia
Biarkan waktu menyembunyikan masa lalu dan yang akan datang

Saat iblis dan malaikat dipertemukan
Mungkinkah kita kan menyadari kunjungan mereka setiap hari

Jakarta, 13 April 2009

Senandung Cinta

Kalau Aku Jadi Laki-laki….

“Kau tidak akan pernah bisa memahami seseorang hingga kau melihat segala sesuatu dari sudut pandangnya…hingga kau menyusup ke balik kulitnya dan menjalani hidup dengan caranya”

(Harper Lee – To Kill A Mockingbird)

Malang, den 18. Maerz 2009

Kadang puyeng sendiri saat belajar tentang budaya. Apalagi yang membahas segala sesuatu tentang gender. Betapa budaya patriarki dan menempatkan perempuan lebih rendah daripada laki-laki sudah begitu kuat mengakar di berbagai belahan dunia. Meminjam istilah Deborah Tannen “laki-laki dan perempuan bagaikan dua kultur yang berbeda”.

Indikasi bagaimana laki-laki memandang perempuan bisa dianalisis dari gaya bicara dan sekerjap lirikan mata yang menjadi bahasa tubuh mereka. Sempat berandai, “if I were a boy” seperti lagu yang dinyanyikan Beyonce, kalau saya laki-laki, saya akan memperlakukan wanita dengan santun dan mengeluarkan mereka dari norma-norma budaya yang membelenggu.

Namun apa daya, manusia hidup berlandaskan budaya, bahkan budaya tak melulu merendahkan wanita. Ironisnya jika kita menganalisis gaya bicara yang merupakan salah satu khazanah budaya, maka kita akan dapati konflik tak ada habisnya dalam menempatkan perempuan sebagai pihak yang di bawah. Di sisi lain, gaya bicara masing-masing individu sendiri tak lepas dari riwayat pribadi antara lain: asal daerah, etnis, kelas sosial, orientasi seksual, pekerjaan, agama, usia, dan gender.

Sempat terperangah manakala mendengar ucapan seorang lelaki berpendidikan dari etnis Jawa, “Perbedaan antara laki-laki dan perempuan itu tidak usah dibahas terlalu dalam lah, wanita sekarang banyak yang sudah kebablasan”. Saya sempat bengong, mungkin ada benarnya, tapi kenapa perspektifnya tidak kita balik? Banyak laki-laki yang notabene mengakali perempuan, namun sanksi moral tidak akan begitu berat dibandingkan dengan perempuan yang membuat kesalahan.

Wah..bahkan pendidikan yang tinggi tidak menjamin sang empunya gelar dapat mempunyai pandangan yang berbeda tentang menyikapi perempuan. Bisa bubrah nih kalau semua orang minta dimengerti tanpa mau mengerti orang lain, kata saya dalam hati.

Sekarang malah jauh lebih was-was, bagaimana seandainya saya tidak bisa sabar dalam melakoni peran perempuan diantara dua kultur yang berbeda ini? Haruskah masing-masing dari kami bertukar peran dan jenis kelamin sehingga bisa memahami satu sama lain?

Akhirnya terlintas di pikiran saya, mungkin ini salah satu sebabnya mengapa banyak tokoh besar dunia seperti Nabi Muhammad Saw hingga Karl Marx hanya mempunyai anak kandung perempuan. Saya rasa hal itu juga merupakan pembelajaran bagi masyarakat untuk lebih menghormati perempuan, mengeluarkan pemikiran-pemikiran kuno mereka yang membelenggu dimana notabene bikinan manusia.

Saya rasa jalan menuju kesana masih panjang ya….mengembalikan perempuan kepada fitrahnya sebagai patner laki-laki, catat – perempuan bukan pembantu rumat tangga laki-laki, dan saling melengkapi diatas perbedaan. Bukankah pepatah pernah bilang, justru karena tidak sempurna maka manusia membutuhkan orang lain untuk menutupi kelemahannya dan melengkapi kekurangannya.

Devi. R. Ayu

Kini Kutahu

Kini kutahu…

mustahil buat seseorang mencintai kita, yang dapat ialah membuat diri kita layak dicintai, selebihnya terserah mereka.

Kini kutahu…
betapapun aku telah peduli, ada saja orang yang tak peduli balik.

Kini kutahu…
bisa bertahun-tahun membangun kepercayaan, dan sedetik merusakkannya.

kini kutahu…
yang penting bukan memiliki apa dalam hidup ini, namun siapa.

kini kutahu…
paling lima belas menit berlagak ramah,  sesudahnya, hal lain saja.

Kini kutahu…
bukan soal bagaimana berbuat yang terbaik dicapai orang, namun apa yang paling dapat kita kerjakan.

kini kutahu…

yang penting bukan apa yang terjadi pada orang, namun apa kemudian yang dilakukannya.

Kini kutahu…
apa yang dapat kita lakukan dalam sedetik, dapat membawa nestapa petaka seumur hidup.

Kini kutahu…
betapapun tipis kita mengiris, selalu ada dua muka terhasil.

Kini kutahu…

betapa lamanya untuk menjadi seseorang, yang kuidamkan.

Kini kutahu…

betapa jauh lebih mudah asal menanggapi, daripada berpikir jernih jitu.

Kini kutahu…
harus selalu ucapkan kata kasih sebelum berpisah, karena mungkin itu terakhir jumpa dengannya.

Kini kutahu…
betapa lamanya kita dapat tahan sesuatu, yang semula kita pikir tak mampu.

Kini kutahu…
kita harus pertanggungjawabkan apa yang kita lakukan, betapapun yang kita rasakan.

Kini kutahu…
kita mengendalikan sikap tindak, atau sikap tindak itu mengendalikan kita.

Kini kutahu…
betapa semula hubungan panas keras, dapat saja berubah menjadi teduh lunak, dan buah-buahnya jauh lebih baik.

Kini kutahu…
pahlawan itu orang yang mengerjakan sesuatu yang harus dilakukan, tak peduli apapun konsekuensinya saat itu.

Kini kutahu…
belajar memberi sesuatu itu,  menuntut latihan disiplin diri.

Kini kutahu…
betapa ada saja orang yang sangat mengasihi kita, tetapi tak tahu cara menunjukkannya.

Kini kutahu…
uang itu selalu menipu dan gagal,  untuk menjaga martabat sejati.

Kini kutahu…
dengan sahabatlah kita sanggup mengerjakan segala sesuatu atau tak sesuatupun, dan merupakan saat yang indah.

Kini kutahu…
orang yang mungkin kita anggap akan menendang kita saat kita jatuh,  justru yang dapat membantu kita bertegak.

Kini kutahu…
saat kita marah, kita merasa berhak marah,  tetapi bukan hak untuk menjadi jahat.

Kini kutahu…
persahabatan dapat terus bertumbuh makin dalam, sebagaimana juga kasih sejati.

Kini kutahu…
seseorang yang tak mencintai kita seperti kita harap,  bukan berarti tak menyayangi dengan segala yang dia miliki.

Kini kutahu…
kedewasaan dan kebijakan itu gayut pengalaman dan pelajaran yang  terpetik, daripada sekadar berapa kali sudah berulangtahun.

Kini kutahu…

jangan mencela dan remehkan mimpi dan angan anak-anak, bila mereka percayai kata-kata kita, dapat nantinya menjadi bencana.

Kini kutahu…
keluarga itu tak selalu disamping kita,  bahkan yang bukan keluarga justru memelihara, mengasihi dan mengajar  menghadapi dunia luas,  keluarga itu bukan semata biologis.

Kini kutahu…
betapa baikpun kawan, suatu ketika akan menyakiti, maka harus selalu siap memberi maaf kepadanya dan siapapun.

Kini kutahu…
tidak cukup hanya dimaafkan oleh orang lain, diri kita sendiripun terkadang perlu dapat memaafkan kita.

Kini kutahu…
betapa parah pun luka dan patah hati kita, dunia akan terus berputar tanpa mesti melirikmu.

Kini kutahu…
latar belakang dan lingkungan dapat mempengaruhi diri, namun kita sendiri bertanggung- jawab akan menjadi bagaimana.

Kini kutahu…
kala sesama kawan bertarung, kita harus ada di satu pihak, betapapun kita merasa tidak enak melakukannya.

Kini kutahu…
orang bertengkar tak mesti karena saling benci, dan tiada pertengkaran bukan berarti ada kasih.

Kini kutahu…
terkadang kita perlu mengedepankan orangnya terlebih dulu, daripada menyimak kelakuannya.

Kini kutahu…
kita tak harus berganti kawan, walau kita tahu kawan itu dapat berubah.

Kini kutahu…
tak harus kita mati-matian mengejar suatu rahasia, bila hal itu dapat mengubah dan merusak kehidupan selamanya.

Kini kutahu…
dua orang dapat melihat dua hal yang tepat sama, namun dengan pengertian yang sangat berlawanan.

Kini kutahu…
betapapun kita menjaga anak-anak agar tak terluka, tetap saja mereka terluka, dan kita dapat ikut terluka.

Kini kutahu…
ada begitu banyak jalaran jatuh dan terperangkap cinta.

Kini kutahu…
betapapun akibatnya, orang yang jujur dengan dirinya, akan melangkah dan memperoleh lebih dalam hidup ini.

Kini kutahu…
berapa banyak pun teman kaumiliki, betapa kau adalah tiang pancang  mereka, kau akan tetap merasa sepi dan hilang, saat kau paling sangat perlukan mereka.

Kini kutahu…
hidup kita dapat diubahkan dalam hitungan jam, oleh orang yang bahkan tak mengenal kita.

Kini kutahu…
biarpun kaupikir tiada lagi dapat kaubantukan pada kawan yang memerlukan, kau pasti masih punya kekuatan untuk menolong.

Kini kutahu…
membaca dan menulis, sebagaimana bicara, dapat mengurangi sesaknya rasa hati.

Kini kutahu…
paradigma hidup kita, bukan satu-satunya pembatas anugerah yang kita terima.

Kini kutahu…
bahwa pengakuan dan ungkapan hati saja, bukan sesuatu yang merendahkan harkat manusia.

Kini kutahu…
bahwa orang yang paling kita kasihi, justru diambil dari kita terlampau cepat.

Kini kutahu…
dalam makna apapun kata “cinta” itu, akan lenyap maknanya bila dipakai berlebihan.

Kini kutahu…
betapa sukarnya menarik pemisah,  antara sikap ramah dan tak menyakiti hati orang, dengan tampil menyatakan pemikiran serta keyakinan.

Jakarta, 5 Maret 2009

This is my own words:

Kini kutahu….

Selama kita masih hidup, maka harapan itu akan selalu ada.

Keep stronger then!

FOEI - International Biodiversity Photo Competition

MEDIA ADVISORY
Friends of the Earth International

biodiversity photo competition starts today

February 2, 2009

Friends of the Earth International announces the launch today of its
annual photo competition, which will gather photos from around the world
on the theme of “Biodiversity Lost, Biodiversity Preserved”.

The best shots will be featured in a series of materials we will launch
in conjunction with the 2010 UN International Year of Biodiversity,
including a calendar and an international photo exhibition.

We are looking for photos that reflect and celebrate the importance of
biodiversity to people everywhere. We are seeking photos that capture
what is being lost, and what the natural world provides: livelihoods,
shelter, food and medicine, recreation, beauty, inspiration and joy, for
a start.

EVERYONE CAN PARTICIPATE

Our competition is free and open to everyone, and we particularly
encourage young people, women, and people living in the developing world
to enter.

DEADLINE 1 APRIL

The deadline for entries is 1 April 2009 (not a joke!), but we
appreciate receiving photos as soon as possible.

YOUR PHOTOS MAY BE USED

The judges will choose a total of 12 winning photographs as well as
three “popular choice” photo per category. The winning photos will be
announced in mid-April. Photos, both winning and non-winning, may also
used for other Friends of the Earth publications and materials, in which
case the photographers name, e-mail address and/or website will be
displayed.

CASH PRIZES

There are cash prizes for the winners: 400 euros for the first-place
photos; 200 euros for the second-place photos; and 100 euros for the
third-place photos.

CATEGORIES:

biodiversity lost
Examples: logging; mining; large-scale fishing; climate change;
desertification; plantations (including agrofuels, large-scale
agriculture and GM crops); commercialization of biodiversity and
biopiracy; urban and rural development and transport projects; etc.

biodiversity preserved
Examples: native species and ecosystems; small-scale, local, organic
agriculture; community and indigenous forest and biodiversity
management; cultural identity; seed-saving; green spaces like parks and
gardens; etc.

JUDGES:

This year’s panel of judges will include:

* Akintunde Akinleye, first-place winner World Press Photo 2007, from
Nigeria
website: www.akintunde1.com
* Peter Menzel, US photojournalist and author of “Hungry Planet: What
The World Eats”
website: www.menzelphoto.com
* Daniel Beltrá (Spain, based in Seattle), environmental and nature
photography specialist and winner of the 2007 World Press Photo prize
for his work on soy plantations and Amazon deforestation
website: www.danielbeltra.com
* Bangladeshi photographer G.M.B. Akash, first-place winner of the 2006
FoEI photo competition
website: www.gmb-akash.com
* Indian photographer Shantanu Das, first-place winner of the 2007 FoEI
photo competition.

MORE INFORMATION and competition rules see:

www.foei.org/en/photo

You can see the winners of last year’s competition at:

http://www.foei.org/en/get-involved/photo/winners2008


————————————————————–
Niccolo’ Sarno
Media Coordinator - Friends of the Earth International
Email: niccolo@foei.org
Tel: +31-20-6221369 (Amsterdam, The Netherlands)
Website: http://www.foei.org/media
————————————————————–
Friends of the Earth International is the world’s largest
grassroots environmental federation with 77 national member groups
in 77 countries and more than 2 million individual members and supporters
————————————————————–
What do the media say about us? READ PRESS REVIEWS HERE:
http://www.foei.org/en/media/links.html
————————————————————–